Sajak Ang
Merentangkan tangan, menggapai pegunungan. Memetik kerlip kota yang senantiasa mengedip. Dan menghembus udara yang menjadi kabut. Melangkah lebar melompati tiap petak yang tergambar. Tertawa riang seakan hari tak pernah lengang. Lalu ketika lampu mulai temaram, jemari menggapai-gapai yang tak terjangkau genggam.
Berjalan berdua dengan bayangan, se-iya setingkah. Menyusuri kota tanpa cela curiga. Singgah di beberapa titik tempat meneteskan peluh dan rindu, kemudian berdiri untuk berlari diburu waktu.
Tadinya jarum panjang tidak berada di tempatnya sekarang, tadinya banyak pula kata terbuang. Ketika terbit petang dan jalanan meremang… kini saatnya pulang.